Kisah Pilu Zohara Pengungsi Rohingya

dok foto : Twitter@UNinIndonesia
banner 120x600

Tajam.news – Kisah pilu seorang ibu bernama Zohara, yang berusia 36 tahun, saat menjadi pengungsi Rohingya yang mengungsi ke Indonesia. Kisah pilunya terungkap melalui sebuah video yang diposting di akun twitter resmi Perserikatan Bangsa-Bangsa di Indonesia (UN in Indonesia) @UNinIndonesia pada tanggal 22 Desember 2023.

Zohara berasal dari lokasi pengungsian di Bangladesh dan mengalami perjalanan sulit menuju Indonesia. Ia tiba di Indonesia dengan menaiki kapal kayu, membawa bersamanya tiga orang anak yang masih berusia 11, 10, dan 9 tahun.

“Kami di atas kapal selama 10 hari, Kami tidak menghadapi kekerasan di atas kapal seperti pengungsi lainnya, tapi kami kesulitan mendapatkan makanan dan air minum yang cukup. Anak- anak saya ketakutan karena mereka tidak bisa makan ataupun minum. saya tidak ada ekspektasi apapun di Indonesia. saya pergi ke bangladesh karena memiliki anak pertama dengan disabilitas netra ( tidak punya bola mata ),” ungkapnya dalam video tersebut.

Menempuh perjalanan laut yang berisiko dan mengorbankan hartanya yang tersisa untuk bisa bertemu dengan suaminya, yang bekerja di Malaysia terpisah dengan dirinya yang berada di Indonesia.

Kondisi lokasi pengungsian di Bangladesh yang tidak aman untuk anak-anaknya, terutama untuk anak tertua dengan disabilitas, membuat Zohora terpaksa pergi bersama anak-anaknya. Banyak terjadi kekerasan, risiko tinggi bencana alam, tidak terbukanya kesempatan bekerja untuknya ataupun pendidikan untuk anak-anaknya, dan kepadatan pengungsi yang berlebih; membuat Zohora mengalami banyak kendala. Anak-anaknya sering hilang dan mengalami kecelakaan di lokasi penampungan di Bangladesh.

Baca juga : https://tajam.news/menarik-perayaan-hari-ibu-di-berbagai-negara/

Zohara menceritakan tentang hari pertama saat tiba di Indonesia, oleh penduduk lokal aceh mereka diberikan makanan dan air minum. Penduduk lokal aceh sering mendatangi mereka untuk menanyakan kabar para pengungsi seperti dirinya, ujar Zohara.

Zohara juga menyampaikan terima kasih kepada penduduk dan Pemerintah Indonesia yang sudah membantunya, tutupnya dalam video tersebut.

Melalui kisah pilu Zohara pengungsi rohingya ini, tergambar seberapa sulitnya kehidupan sebagai seorang pengungsi, terutama bagi seorang ibu yang berjuang untuk melindungi dan merawat anak-anaknya di tengah kondisi yang sulit. Kisah ini tidak hanya menggambarkan kisah individu, tetapi juga merefleksikan realitas pahit yang dihadapi oleh banyak keluarga pengungsi di berbagai belahan dunia. (*)

Komentar Anda