oleh

Kongres GMNI Berakhir Ricuh, DPD dan DPC Kembalikan ke Ideologi Awal Tujuan Pembentukan

TAJAM.NEWS, AMBON – Sungguh ironis. kongres GMNI ke XXI di Ambon berakhir ricuh, sejumlah peserta dari berbagai daerah dibuat babak belur akibat adanya tindak kekerasan dan Premanisme didalam kubu internal kepanitiaan.

Pada tanggal 28 November hingga berakhir 02 Desember 2019 sempat diselenggarakannya Kongres Kemaritiman oleh Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) di Ambon.

Bukannya kondusif malah berujung pada kericuhan di meja persidangan berlangsung kala itu. Meski, didalam gedung tidak separah seperti keadaan diluar akan tetapi aksi pemukulan terjadi begitu dramatis dan penuh emosi.

Kongres GMNI ke XXI di Ambon Berakhir Ricuh

Salah satu korban yang sempat mengalami pemukulan tersebut ialah Muhammad Ridho A.G.D selaku Sekretaris DPC GMNI Banjarmasin, dengan kondisi muka lebam dan mau tak mau harus menahan rasa sakit akibat adanya kekerasan dari pihak panitia, melihat hal itu, dua rekannya dari Banjarbaru, tak tinggal diam, Muhammad Novriandi dan Husein Nafarin, yang kala itu hendak melerai kejadian tersebut namun gagal dan akhirnya juga harus menerima masing-masing pukulan tepat di pelipis kening dan wajah kedua rekannya itu.

Kemudian, Ia mengungkapkan, tentang kejadian pemukulan terhadapnya itu, sangat disesalkannya, dalam insiden tersebut dikubu kepanitiaan bukannya menahan untuk tidak adanya perkelahian serta keributan justru pada saat persidangan malah membiarkan peserta diberbagai daerah rela menerima sejumlah pukulan.

Banyaknya dari Berbagai Daerah Memberikan Dukungan untuk Kongres GMNI

“Terkait hal yang sudah terjadi kita maafkan, walaupun pada sejatinya tidak akan kita lupakan. Ini akan menjadi catatan sejarah besar dan PR yang besar pula dan harus diingat bersama-sama tentang bagaimana cara bersikap layaknya seorang intelektual”. Katanya kepada tajam.news, Sabtu (14/12).

Bahkan, pria yang kerap disapa Edo ini, terbesit tentang kekecewaan setelah kegiatan Kongres Kemaritiman GMNI yang telah digelar di Ambon. Sehingga, banyak dari berbagai daerah memberikan dukungan serta simpatinya terhadap aktivis yang identik dengan lambang kepala banteng itu.

“Saat proses berjalannya kongres tersebut justru merasakan adanya tindakan intimidasi dan premanisme terhadap DPC GMNI Kota Banjarmasin bahkan beberapa DPC/DPD lainnya juga,” tandasnya.

Senada juga disampaikan oleh Ketua DPD GMNI Kalimantan Selatan, Ridho Ary Azhari, sebenarnya masih banyak yang harus dibenahi daripada mementingkan pertikaian yang ada kemarin, salah satu hal yang paling terberat saat ini yang Ia pikirkan dalam menghadapi tantangan besar dunia selanjutnya adalah revolusi Industri 4.0 agar kedepannya tidak mudah tenggelam dan mampun bertahan dengan sistem ini.

Kongres GMNI Berakhir Ricuh

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

1 komentar

Lagi Hot