oleh

Nenek Dayyarah, Bukti Perhatian Pemerintah Sumenep Belum Terwujud

-SOSOK-99 views

TAJAM.NEWS, SUMENEP – Sungguh memprihatikan, Demi menyambung kebutuhan hidupnya, wanita lansia bernama Dayyarah (82) harus rela menjual sapu lidi seharga seribu rupiah perikat.

Bukan hanya tinggal sebatang kara, penghasilannya pun hanya mencukupi makannya cuma kali sehari. Hal ini, masih perlu jadi catatan khusus pemerintah Kota Sumenep, Jawa Timur.

Meski demikian, perhatian tersebut tidak sepenuhnya terbantu. Terbukti, kucuran dana bantuan untuk kesejahteraan warga masih banyak yang belum tersentuh.

Wanita Lansia Nenek Dayyarah Harus Rela Menjual Sapu Lidi Seharga Seribu Rupiah Perikat

Salah satu contohnya sekarang ialah Dayyarah, nenek sebatang kara yang berumur hampir senja ini tinggal wilayah Desa Gapura Timur, Kecamatan Gapura, Kabupaten Sumenep, Jawa Timur.

Bahkan, Dayyarah dengan hidupnya sendiri tanpa ditemani anak maupun cucunya ini tinggal disebauh gubuk berukuran kurang lebih 5×2 meter tersebut berlokasi di Dusun Dikkodik, Gapura Timur.

Nenek Dayyarah

Dirinya mengaku demi menyambung hidupnya untuk kebutuhan sesuap nasi dengan kondisi lanjut usia itu, Ia harus membuat sapu lidi berukuran genggaman tangan orang dewasa.

“Setiap hari saya bikin sapu lidi sehari dapat satu. Kalau dua saya gak mampu,” kata Dayyarah (82), Senin (23/12/2019).

Yang memprihatinkan kembali, sapu lidi yang biasanya dibeli oleh pedangang langganannya cuma dihargai Rp 1 ribu saja. Bahkan, untuk mendapatkan keuntungan pun masih jauh dari kata cukup.

Memprihatinkan Kisah Sosok Seorang Wanita Lansia Nenek Dayyarah

Selain itu, para pedagang lain pun untuk menjualnya kembali hanya datang seminggu atau dua minggu sekali untuk mengambil hasil kreasi miliknya itu. Dalam ha ini pun, dirinya harus menunggu dalam waktu yang tak tentu.

Kehidupan Dayyarah harus berjuang dengan uang hasil menjual sapu lidi, untuk gunakannya dalam membeli beras yang Ia campur dengan jagung agar dapat lebih banyak dan mengenyangkan.

Setiap hari Dayyarah memasak hanya satu kali saja yaitu satu cangkir beras jagung. Nasi bercampur dengan jagung tersebut kadang dimakan dirinya dengan ikan atau terkadang hanya dengan mangga sebagai pengganti ikan.

“Tiap hari saya makan seadanya terus kalau tak ada ikan sama mangga saja sebagai pengganti ikan,” imbuhnya dengan berbahasa Madura.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Lagi Hot