Refly Harun : Dirty Vote Ekspresi Anak Bangsa

Refly Harun Dirty Vote Ekspresi Anak Bangsa (Tangkapan Layar/Yt @YusufMuhammadMartakChannel)
banner 120x600

Tajam.News – Pengamat politik yang juga seorang pakar hukum tata negara Refly Harun, menyampaikan pandangannya mengenai film dokumenter Dirty Vote.

Hal tersebut disampaikan Refly Harun dalam acara diskusi publik yang disiarkan live oleh kanal youtube @YusufMuhammadMartakChannel.

Refly menilai apa yang terlihat pada film dokumenter Dirty Vote merupakan bagian dari ekspresi anak bangsa yang mengungkapkan apa yang terjadi sesungguhnya kerena kecintaan terhadap tanah air

“Kita lihat dari perspektif demokrasi dirty vote itu adalah bagian dari ekspresi anak bangsa untuk mengungkapkan apa yang terjadi sesungguhnya karena dia cinta dengan tanah airnya dan yang ngomong itu tidak sembarangan yang ngomong itu adalah 3 pakar hukum tata negara yang saya kenal baik integritas mereka dan mereka sudah lama berkecimpung di society,” kata Refly Harun.

Baca Juga : Ini Hal-hal yang Dilarang Pada Masa Tenang Pemilu 2024

Menurut Refly apa yang disampaikan dalam film dirty vote itu bukan sesuatu yang aneh dan telah banyak diberitakan oleh media.

“Jadi apa yang mereka sampaikan itu kalau saya nilai, itu bukan sesuatu yang aneh karena sesungguhnya apa yang mereka sampaikan itu hanyalah sesuatu yang sudah kita ketahui, dari pemberitaan-pemberitaan media”, ujarnya.

“hanya persoalannya, mereka lebih maju untuk menggali lebih dalam mengenai perspektif hukum dan tata negaranya” terang Refly.

Refly Harun mengungkapkan jika pemilu 2024 saat menentukan arah bernegara kedepan.

“menurut saya pemilu ini akan menentukan apakah kita punya peluang untuk mengembalikan rel bernegara kita,” ujarnya.

Diketahui sebelumnya Film Dokumenter Dirty Vote yang dikupas oleh tiga akademisi Bivitri Susanti, Feri Amsari, dan Zainal Arifin Mochtar itu diputar pada kanal youtube @DirtyVote Minggu (11/2), Ketiganya mengungkap berbagai instrumen kekuasaan telah digunakan untuk tujuan memenangkan pemilu dan merusak tatanan demokrasi. (*)

Komentar Anda