Tugu Yogyakarta: Menyingkap Sejarah dan Kearifan Lokal di Jantung Kota Jogja

banner 120x600

Makassar,Tajam.news – Tugu Yogyakarta, ikon kota Gudeg yang megah, bukan hanya sekadar landmark, tetapi juga sebuah penanda sejarah dan identitas kota yang kaya budaya ini. Tugu Yogyakarta dalam Menyingkap Sejarah dan Kearifan Lokal di Jantung Kota Jogja, Di kutip dari wikipedia, Monumen ini dibangun oleh Sri Sultan Hamengkubuwono I pada tahun 1755. Dikenal sebagai Tugu Golong-Gilig, dan dibangun dalam semangat persatuan rakyat. Di puncak tugu berbentuk bulat (golong) dan tiangnya berbentuk silindris (gilig), demikianlah namanya. Ketinggian monumen tersebut adalah 25 meter. Dibangun di Garis Imajiner Yogyakarta yang menghubungkan laut selatan, Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, dan Gunung Merapi.

Gudeg adalah salah satu masakan khas indonesia yang terkenal akan kelezatannya. Masakan ini merupakan masakan tradisional dan khas Provinsi Yogyakarta dan Jawa Tengah Indonesia. Dalam perkembangannya, masyarakat mengenal gudeg terkenal berasal dari Yogyakarta sehingga membuat kota ini dikenal dengan nama Kota Gudeg.

Kembali ke Tugu yogyakarta,

Yogyakarta atau sering disebut Jogja dikenal sebagai tempat wisata favorit, tentunya Jogja menawarkan berbagai macam objek wisata unggulan yang dikunjungi ketika menyambangi kota pelajar ini. Kota Jogja yang sarat akan kekayaan sejarahnya di masa lampau inipun mempunyai landmark kota yang terkenal yaitu Tugu Jogja.

Tugu Yogyakarta bukan hanya sebuah objek fisik yang menghiasi alun-alun utara, tetapi juga mengandung makna simbolis yang dalam. Menghadap ke arah utara, tugu ini melambangkan semangat membangun dan menghadapi masa depan. Tugu tersebut juga menggambarkan kekompakan dan kebersamaan masyarakat Yogyakarta, yang terwujud dalam harmoni antara budaya, sejarah, dan kehidupan modern.

Semangat persatuan tersebut atau yang disebut golong gilig tergambar jelas pada bangunan tugu. Tiang Tugu berbentuk gilig (silinder) dan puncaknya berbentuk golong (bulat), akhirnya tugu disebut Tugu Golong-Gilig. Fungsi lain dari Tugu sebagai patokan arah saat Sri Sultan Hamangku Buwono I melakukan meditasi yang menghadap puncak Gunung Merapi pada saat itu.

Tugu Yogyakarta, dengan kehadirannya yang megah, tetap menjadi penanda kebanggaan dan kebersamaan bagi masyarakatnya. Sebuah simbol yang merangkum kekuatan sejarah, keberagaman budaya, dan semangat masa depan yang cerah di bawah langit Yogyakarta yang selalu menyapa dengan keramahan dan kehangatan.(*)

Komentar Anda